Thursday, January 19, 2012
true..
Once upon a time there was a painter who had just completed his course. He took 3 days and painted beautiful scenery. He wanted people's opinion about his caliber and painting skills.
He put his creation at a busy street-crossing. And just down below aboard which read -"I have painted this piece. Since I'm new to this profession I might have committed some mistakes in my strokes etc. Please put a cross wherever you see a mistake."
While he came back in the evening to collect his painting he was completely shattered to see that whole canvass was filled with Xs (crosses) and some people had even written their comments on the painting.
Disheartened and broken completely he ran to his master's place and burst into tears.
This young artist was breathing heavily and master heard him saying"I'm useless and if this is what I have learnt to paint I'm not worth becoming a painter. People have rejected me completely. I feel like dying"
Master smiled and suggested "My Son, I will prove that you are a great artist and have learnt flawless painting. Do as I say without questioning it. It WILL work."
Young artist reluctantly agreed and two days later early morning he presented a replica of his earlier painting to his master. Master took that gracefully and smiled.
"Come with me. " master said.
They reached the same street-square early morning and displayed the same painting exactly at the same place. Now master took out another board which read -"Gentlemen, I have painted this piece. Since I'm new to this profession I might have committed some mistakes in my strokes etc. I have put a box with colors and brushes just below. Please do a favor. If you see a mistake, kindly pick up the brush and correct it."
Master and disciple walked back home.
They both visited the place same evening. Young painter was surprised to see that actually there was not a single correction done so far. Next day again they visited and found painting remained untouched. They say the painting was kept there for a month for no correction came in!
Moral of the story:
It is easier to criticize, but DIFFICULT TO IMPROVE!
So don't get carried away or judge yourself by someone else's criticism and feel depressed...
JUDGE YOURSELF! YOU ARE YOUR BEST JUDGE!!!
Monday, August 1, 2011
contengan jalanan
Tuesday, May 24, 2011
life is....
Thursday, May 19, 2011
muhasabah diri
Sunday, May 8, 2011
happy moms day
Wednesday, March 17, 2010
to all my friends...
Saturday, March 6, 2010
..botol kosong..

Thursday, February 4, 2010
.::redha::.
Thursday, October 22, 2009
Berhentilah Menjadi Gelas


"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya.
Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. "Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru. "Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. "Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya,
Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?" "Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?" "Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan. "Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
kesimpulannya.....
lu pikir lah sendiri...
hehehe...
BERAT SEGELAS AIR
Pada saat memberikan kuliah tentang Management Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya:
“Seberapa berat menurut anda kira-kira segelas air ini?”
“Ini bukanlah masalah berat mutlaknya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya,” kata Covey.
“Jika saya memegangnya selama 1 minit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”
“Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya,” lanjut Covey.
“Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, berehat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.” Kita harus meninggalkan beban kita secara berkala, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan petang ini, tinggalkan beban tersebut.”
“Bukan beban berat yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut.” Stephen Covey.
kesimpulannya...jangan bawa pulang kerja anda ke rumah...hahahahaha...leave it in u....


